Minggu, 14 April 2013

Burung Gereja



Apa jadinya jika seekor burung gereja kecil mulai bosan dan muak dengan kehidupannya yang fana? Apa jadinya jika seekor burung gereja kecil mulai berontak dan ingin terbebas dari jemunya hidup? Tentunya ia akan mencari aktivitas baru untuknya.

Suatu ketika di atap  sebuah gedung pencakar langit kota metropolitan, hiduplah seekor burung gereja betina dengan ke empat anaknya yang baru saja menetas dengan menyisakan pecahan cangkang telur si sekitar kuitnya yang masih berbulu jarang. Setiap hari, sang burung gereja betina harus terbang melayang mengitari seisi kota untuk mencari biji-bijian dan serangga untuk mengisi perut dirinya dan juga anak-anaknya. Berbagai cara ia lakukan agar mendapat makanan. Tak peduli ia harus memulung, mencuri, mencicit, asalkan bisa mendapat makanan, baginya sudah cukup.

Hari demi hari, sang burung gereja betina lalui dengan mencari makanan dan mengurus anak-anaknya. Ia lakukan semua itu hanya seorang diri. Mungkin engkau akan bertanya, dimanakah sang burung gereja jantan?

Sang jantan pergi meninggalkan sarang peraduan cinta mereka berdua dengan dalih untuk mencari serangga terlezat yang ada di kota. Awalnya sang betina tidak setuju menolak mentah-mentah ide sang jantan. Namun, dengan mata berninar-binar dan cicitan janji manis yang begitu meyakinkan, akhirnya sang betina mengizinkan sang jantan pergi.

Telah 4 musim ia lewati. Telah 4 musim pula ia menanti sang jantan yang tak kunjung kembali. Ia terus bertanya-tanya, kemana perginya sang jantan? Sebegitu sulitkah mendapatkan sang serangga terlezat itu?
Namun, ia masih percaya, sang jantan akan segera datang. Mungkin itu, besok, lusa atau beberapa hari lagi sang jantan akan segera datang.

Namun, semakin lama ia menunggu, semakin terkikis pula kepercayaannya pada sang. Dengan hati yang getir dan sayap yang mulai merapuh, ia mulai menabahkan hati dan mencoba untuk menghidupi dirinya dan ke 4 anaknya seorang diri.

Namun, sang burung gereja betina mulai bosan. Bosan dengan hidupnya yang tanpa tujuan. Bosan dengan kemunafikan dan pengkhianatan sang jantan. Bosan meratapi nasib yang semakin memburuk.

Sang betina mulai merindukan kehidupannya dulu. Ya sangat dulu. Ketika itu ia masih sangat muda belia, cantik, dan terkenal di antara para burung jantan. Banyak burung jantan yang berusaha merebut hatinya dengan berlomba-lomba membuat sarang terbaik, dan bercicit semerdu mungkin, tidak lain untuk menarik hati sang betina. Namun, semua ia tolak mentah-mentah. Ia berhasil mematahkan hati begitu banyak burung gereja jantan . Dan ada rasa kepuasan tersendiri baginya jika ia berhasil membuat sang jantan menangis tersedu-sedu, memohon agar ia menerima cintannya.

Hingga suatu ketika, ia bertemu dengan seekor jantan yang hanya dalam sekali pandang, dapat membuatnya jatuh cinta. Namun, ia tak mau dengan mudah terbuai dalam janji manis sang jantan. Ia patok harga tinggi untuk dirinya pada sang jantan jika sang jantan ingin memiliki sang betina. Sang jantan tak lantas menyerah, ia membuat sarang terindah dan terbesar yang pernah sang betina lihat, ia mencicit dengan begitu merdunya, hingga membuat sang betina terbuai dan menerima pinangan sang jantan.

Hari demi hari mereka lalui berdua, bersama. Dunia seolah telah dalam genggaman mereka. Dan watktu pun seakan tak dapat memudarkan kasih cinta mereka berdua. Hingga akhirnya sang betina mengandung anak mereka.

Ia begitu merindukan kehidupannya yang dulu. Ia rindu menjadi pujaan para jantan. Ia rindu dilayani. Ia bosan dengan kehidupannya sekaran. Ia muak. Ia ingin mencari kehidupan yang baru.

Hingga suatuwaktu,  ketika ia sedang terbang redah dengan goyah melintasi jalan kota yang ramai, ia menemukan cairan tertumpah dari botol yang berbau begitu menyengat dan mengundang. Penasaran, ia lalu mendekati botol tersebut. Itu merupakan pertama kalinya ia mencium bau itu. Bau yang sungguh  memikat. Dengan ragu. Ia mulai mencicipi cairan itu. Ada rasa pahit dan getir yang timbul dilidahnya. Ia suka cairan itu. Cairan itu membuai dirinya. Ia terus menenguk cairan itu terus menerus. Cairan itu memabukkan dirinya. Begitu terbuainya ia hingga ia lupa akan kesengsaraan dan penderitaan yang ia alami. Ia terus menenguk hingga akhirnya ia harus berhenti karena mulai merasa pusing dan mulai.

Dengan susah payah, ia mencoba mengepakkan sayapnya untuk kembali ke sarangnya. Karena ia meminum terlalu banyak, ia akhirnya tidak mencari biji-bijian untuk anak-anaknya hari ini. Betapa kecewa anak-anaknya mendengar kabar itu. Ke empat anak-anaknya terus menerus mencicit minta diberi makan. Dengan kesal. Sang induk mencicit lebih keras agar anak-anaknya diam.

Sang burung gereja begitu terbuai akan rasa cairan itu. Cairan itu begitu memabukkan. Ia dibuat terbang melayang ke langit ke tujuh. Ia dibuat seakan lupa akan kesulitan dan kesengsaraan yang ia miliki saat ini. Cairan itu menjadi candu baginya.

Kini, ia mempunyai aktivitas baru. Yakni pergi ke tempat botol itu berada dan meminum sebanyak-banyaknya cairan itu. Ia tidak lagi mencari biji-bijian untuk anak-anaknya. Setiap malam ketika induknya pulang, sang anak mencicit-cicit minta makan. Namun induknya hanya bisa diam. Anak-anaknya pun mencicit makin keras, minta diberi perhatian. Karena kesal dan sudah naik pitam, sang induk akhirnya mematuk-matuki anak-anaknya agar diam.

Dan lagi, sang burung gereja jantan kembali ke tempat botol-botol itu berada. Ketika sedang meneguk cairan memabukkan itu, ada pemandangan yang tidak asing baginya Ia. melihat pasangannya – sang burung gereja jantan – sedang berada di dekatnya. Namun, ia tak sendiri. Ia bersama burung gereja betina lain, dengan bulu lebih berkilau dan penuh warna. Dengan cemburu dan amarah yang meledak-ledak, ia kemudian terbang menghampiri sang jantan.

Sang jantan begitu terkejut melihat kedatangan sang burung gereja betina. Ya, burung gereja yang dulu ia kejar mati-matian hanya untuk mempermainkan hatinya dan menaklukannnya. Setelah ia berhasil memperdayanya, ia membuangnya seperti selembar kertas bekas tak berguna lagi. Sang betina mempertanyakan mengapa ia tak kunjung kembali dan siapa betina yang ada disampingnya.

Sang jantan dengan santai menjawab yang sebenanya. Dan betina yang ada di sampingnya adalah pasangan barunya. Dengan rasa amarah yang berkecamuk di dada, ia berusaha mematuk-matuki sang jantan. Berusaha menyakiti sang jantan agar ia tahu, betapa sakit dan terluka hatinya atas perbuatan keji yang telah dilakukan sang jantan padanya. Sang jantan tak tinggal diam. Ia kemudian mendorong sang betina sekuat tenaga. Dengan kehilangan kendali sang betina terjatuh, dan sekonyong kemudian, benda hitam besar berbau karet terbakar telah menghantam mulus tunuhnya. Dengan terbujur kaku, ia mati dengan meninggalkan luka dan dendam pada sang jantan.

Demikianlah kisah sang burung gereja betina. Semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar